oleh

Tri Satya: Janji Mulia Penerus Bangsa

-artikel-14 views

Oleh: Sidiq Nugroho

Malang, 14 Agustus 2019

 

Siapa tidak pernah mendengar Tri Satya, tiga janji kesetiaan yang selalu diucapkan oleh para anggota PRAMUKA. Janji yang diucapkan tersebut merupakan janji yang mulia. Kali ini penulis ingin sedikit mengulas tentang tri satya tersebut dalam dimensi ajaran Islam. Pertama, mari kita simak kembali bunyi tri satya sebagai berikut:

Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh:
1. Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuaan Republik Indonesia.
2. Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat.
3. Menepati Dasa Dharma.

Sangat menarik sekali tiga janji setia tersebut jika diulas dan disandingkan dengan ajaran agama Islam. Pada janji pertama, semua sadar bahwa untuk menjadi pribadi yang berkarakter mulia, syarat yang harus dipenuhi ialah menjalankan kewajiban terhadal Allah swt. Hal ini merupakan kesadaran sebagai seorang hambaAllah yang harus memenuhi kewajibannya terhadap Sang Pencipta.

Kewajiban yang harus dipenuhi tentunya tidak lain ialah mentaati Allah, beribadah kepada-Nya. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (Q.S Ad-Dzariyat/51: 56)

Masih pada janji nomer 1, yakni mengenai kewajiban sebagai rakyat NKRI. Kewajiban rakyat terhadap negaranya adalah mencintai dengan sepenuh hati. Cinta tanah air, merupakah akhlak yang dicontohkan nabi Muhammad SAW. Ketika nabi hijrah dari Makkah ke Madinah, semakin jauh kaki beliau melangkah dari tanah airnya yakni Makkah, nabi akhirnya menengok ke belakang sambil berkata kepada kota Makkah: “Demi Allah, sesungguhnya engkau (Makkah) adalah sebaik-baiknya bumi Allah, dan sesungguhnya engkau adalah negeri yang paling dicintai Allah. Seandainya aku tidak di usir darimu, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu.” Kanjeng nabi Muhammad cinta terhadap tanah air beliau. Hal ini juga terlihat saat kanjeng Nabi diperintahkan berkiblat ke arah masjidil Aqso. Berkali-kali beliau memohon kepada Allah SWT agar kiblat tidak diarahkan ke palestina tetapi ke ka’bah di tanah air beliau. Allah berfirman:

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَـنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰٮهَاۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَـعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.(Q.S Al Baqoroh/2:144). Jadi kanjeng nabi itu cinta tanah air. Hubbul Wathon. Cinta tanah air ini caranya dengan menjalankan kewajiban terhadap tanah air. Kiranya seperti itu gambaran poin tri satya yang pertama.

Janji setia selanjutnya ialah menolong sesama hidup. Mengenai akhlak tolong-menolong, Allah berfirman:

ۘ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S Al-Maidah/5:2)

Jadi, tidak ada alasan menolong dalam keburukan. Lalu apakah tidak boleh menolong orang yang melakukan keburukan? Jawabanya boleh menolong orang yang melakukan keburukan, caranya dengan mengingatkan orang tersebut agar sadar dan mau bertaubat dari keburukan yang dilakukan. Sehingga dia akan menjadi orang baik. Itulah pertolongan terhadap orang yang berbuat keburukan.

Selanjutnya, mempersiapkan diri membangun masyarakat. Masyarakat tidak akan ada tanpa adanya saling mengenal, saling mengerti, saling menghargai. Perbedaan yang ada dijadikan layaknya pelangi, warna-warni menjadikannya semakin indah.

Allah menciptakan manusia berbeda-beda, bersuku-suku, berbangsa-bangsa adalah untuk saling mengenal:

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤٮِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Q.S Al-Hujurat/49:13)

Maka dari itu, untuk membangun masyarakat perlu adanya sikap saling mengenal. Saling mengenal bisa menjadikan seseorang untuk saling menghargai. Dengan kenal dan tahu perinsip masing-masing orang yang berbeda, maka akan timbul toleransi. Begitu seterusnya sehingga terbentuklah masyarakat yang tentram. wallahu a’lam

✊  Salam PRAMUKA
Satyaku ku darmakan. Darmaku ku baktikan.
Agar jaya Indonesia.
Indonesia tanah airku aku jadi pandumu.

 

NB.

Poin tri satya selanjutnya kiranya akan sangat panjang karena berkaitan dengan dasa dharma. Maka, Insya Allah akan kami tulis pada judul yang akan datang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed