oleh

Menyimak Covid-19 dari Perspektif Jurnalistik

-artikel-10.270 views

Oleh: Yunanto

Tiada hari tanpa publikasi ihwal virus Corona (Covid-19). Di semua jenis media massa ada. Masif di jagat media sosial. Digunjingkan pula secara tatap muka di berbagai tempat seantero NKRI.

Andai Covid-19 saya personifikasikan, “dia” sungguh elemen “who” yang sangat hebat. Mampu bertengger di puncak tangga publikasi Nusantara. Berbulan-bulan menggemakan nada duka. Sejak awal Maret 2020 hingga kini.

Saya mencoba menyimak fakta. Baik fakta peristiwa maupun fakta pendapat dari perspektif publisistik praktika (jurnalistik). Memang, sungguh dahsyat bobot nilai bahan berita elemen “who” personifikasi Covid-19. Mampu menenggelamkan elemen why dan how dari ranah komunikan berbagai media.

Misteri tentang why dan how atas “who” pun tidak terjawab tuntas. “Who” malah bersanding mesra dengan what. Lahirlah publikasi nominal korban “who”. Jumlah yang positif “who”, jumlah korban sembuh dan jumlah korban meninggal dunia. Diperbarui setiap hari.

Kehangatan “who” dengan what itu pun dipermesra dengan where dan when. Itulah yang nampak dominan di dunia publikasi media massa maupun media sosial. Komunikan media seperti dianggap tidak perlu tahu why dan how atas “who”.

Sekadar pelipur lara, memang ada publikasi atas elemen why dan how. Sayang, bobot nilai informasinya jauh di bawah “Si Biang Kerok”, yaitu “who” tersebut. Misal, anjuran pakai masker, cuci tangan dengan sabun di air mengalir dan jaga jarak

Kuatkan How
Saya beropini, kini saatnya memberikan penguatan pada elemen how atas “who” tersebut. Konkretnya, konten publikasi media massa dan media sosial harus didomasi elemen how. “Ruh” publikasi adalah how menumpas “who”.

Bagaimana dengan elemen-elemen yang lain? Sekali lagi, dari perspektif publisistik praktika memang tidak boleh dinihilkan. Elemen who sebenarnya (sumber berita) haruslah tetap ada. Begitu pula elemen what, where, dan when. Hakikatnya, agar publikasi tidak jadi peta buta bagi khalayak komunikan media.

Tentu, harus ada “kiblat” (acuan) dalam mendominasikan konten elemen how di setiap publikasi. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan publikasi. Informasi yang akurat plus sahih, menjadi harga mati. Khalayak komunikan media pun terlindungi dari kezaliman publikasi hoax.

Secara legal formal, “kiblat” dimaksud adalah Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Mulai dari tingkat pusat yang dikomando Letjen TNI Doni Monardo, hingga tingkat provinsi, kabupaten dan kota.
Elemen how yang dilansir tim gugus tugas harus menjadi konten dominan publikasi.

Misal, tim gugus tugas tingkat pusat merumuskan ihwal strategi pelaksanaan menuju masyarakat produktif dan aman Covid-19. Ini inti elemen what. Ada sekian tahapan mekanisme yang harus dilalui. Ya, konten tahapan itulah elemen how yang harus didominasikan dalam publikasi.

Sebut saja, bahan publikasi dimaksud dimulai dari urutan satu sampai dengan sembilan. Di urutan satu disebutkan: “Pengendalian Covid-19 harus berbasis data dan fakta lapangan. Putusan gugus tugas selalu melibatkan pakar dan berpedoman pada standard internasional”.

Di urutan dua: “Dari analisis dan pemetaan pakar, pemerintah melakukan kategori sesuai dengan tingkat risiko di tiap daerah. Zona hijau = belum terdampak; zona kuning = tingkat risiko rendah; zona oranye = tingkat risiko sedang; dan zona merah = tingkat risiko tinggi”.

Elemen how berikutnya: “Pelaksanaan keputusan tim gugus tugas harus melalui tahapan pra-kondisi. Meluputi edukasi, sosialisasi dan simulasi di berbagai sektor”.

Khalayak komunikan media juga harus diberi pemahaman berelemen how tersebut di urutan berikutnya: “Jika dalam perkembangannya ditemukan kenaikan kasus, maka tim gugus tugas kabupaten/kota bisa memutuskan untuk melakukan pengetatan atau penutupan kembali”.

Elemen how yang didominasikan harus berkemampuan meyakinkan khalayak komunikan media. Misal, konten yang berisi penegasan: “Gugus tugas pusat bersama gugus tugas provinsi akan memberikan informasi, pendampingan, evaluasi serta arahan sesuai dengan perkembangan keadaan”.

Konklusi opini ini, model dan gaya berjurnalistik perlu mendominasikan elemen how. Bila hal tersebut bisa diwujudkan berpotensi membangkitkan optimisme khalayak komunikan media.

Semoga “Si Biang Kerok” (elemen “who” personifikasi; Covid-19) tidak terus-menerus menghantui kita.
Adios Covid-19. (☆)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed